BONET, Dari Ajang Mencari Jodoh Hingga Media Promosi PHBS
Bonet dipercaya sebagai salah satu khazanah budaya sastra lisan Suku Dawan, selain heta, tonis dan nu’u. Suku Dawan sendiri merupakan suku besar yang penduduknya tersebar Pulau Timor bagian barat, terutama di wilayah administrasi Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara. Seperti pada umumnya tarian daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur semacam lego-lego di Alor atau Tari Gawi di Ende Pulau Flores, bonet juga ditarikan dengan membentuk lingkaran, dimana satu dengan lainnya saling bergandengan tangan dan berputar sambil melantunkan pantun dengan syair syair yang biasanya memiliki rima mengulang. Bentuk lingkaran dengan bergandengan tangan dipercaya oleh masyarakat Suku Dawan melambangkan persatuan dan kesatuan antara sub-suku Dawan, yaitu Amanatun, Amanuban, dan Mollo.
”Dahulu Bonet dijadikan ajang mencari jodoh bagi muda-mudi di wilayah Amanatun, Amanuban dan Mollo ini. Kini kami mencoba untuk memodifikasi pantun dalam Bonet agar dapat dijadikan media untuk menyampaikan pesan-pesan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat,” Jelas Cornelis Metta, Ketua Panitia pelaksana Kompetisi Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media seni tradisional Bonet disela-sela kegiatan yang dilaksanakan di Lapangan Puspemnas, Kota Soe, dari tanggal 18 hingga19 Mei 2009. Cornelis menambahkan bahwa biasanya Bonet dipentaskan untuk memeriahkan berbagai acara kekeluargaan, acara resmi dibidang pemerintahan maupun keagamaan. Bonet merupakan tari persatuan yang dilakukan baik oleh anak-anak, pemuda/pemudi, orang tua, laki-laki maupun perempuan.
Tidak salah apabila puluhan tahun yang lalu, sebelum radio, televisi, parabola, VCD dan MP3 menjangkau masyarakat secara luas, pementasan bonet merupakan acara yang ditunggu tunggu. Lebih jauh Cornelis menceritakan bahwa dahulu orang rela berjalan kaki puluhan kilometer demi menyaksikan dan terlibat dalam bonet. Kharisma Bonet masih terasa hingga saat ini, bahkan pada saat kompetisi Bonet dilapangan Puspemnas, terlihat antusiasme yang besar dari masyarakat umum yang membanjiri lokasi.
Pantun dalam bonet merupakan bahasa kiasan yang mengandung makna-makna tertentu,” ungkap Amos Nope, salah seorang juri yang juga pengasuh sanggar seni. Lebih jauh, dia menyatakan bahwa isi pantun dapat digubah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Maka kemampuan para guru pembimbing bonet disetiap sekolah untuk menggubah syair sehingga memiliki makna yang tepat adalah kunci keberhasilan. ”Keindahan syair dan kesesuaian makna dengan tema kompetisi bonet ini adalah salah satu kriteria penilaiannya,” kata Amos, ”kini, tergantung kreativitas dari setiap sekolah untuk meramu kata dan kalimat dalam pantun tersebut.”
Untuk menghadapi kompetisi ini, persiapan yang dilakukan pihak sekolah berbeda, beda. ”Kami melakukan latihan intensif selama 6 hari berturut-turut, sejak tanggal 10 hingga 16 Mei 2009,” ungkap Rosalina E Lobo, Kepala Sekolah SD Negeri Kesetnana yang menjadi salah satu peserta lomba bonet. Sementara itu, Theofilus Tafuli, Kepala SD Negeri Bimate menyampaikan bahwa sekolahnya mampu memiliki peralatan yang lengkap karena pernah mendapatkan bantuan dana hibah dari luar negeri untuk sekolahnya. Tidak heran apabila SDN Bimate memiliki alat perkusi semacam likurai yang tentunya menjadikan nilai tambah dalam penilaian.
Dalam melakukan pementasan Bonet ini, para siswa pria memakai Mau, sedangkan perempuan menggunakan Tais. Mau dan Tais adalah kain adat khas Timor yang bermotif warna cerah, seperti putih, kuning dan merah. Selain memakai Mau, siswa pria juga memakai destar yang disebut Pilu, sejenis tutup kepala khas masyarakat Suku Dawan. Para siswa putra dan putri ini juga membawa Alu Mama, sebuah kantung sirih pinang yang diselempangkan di bahu. Sirih pinang dan kapur ini melambangkan keakraban dan persahabatan dengan cara saling bertukar satu dengan lainnya
Terobosan yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (POKJA AMPL) Kabupaten TTS ini patut diacungi jempol. Melalui Dinas Kesehatan sebagai pelaksana kegiatannya, mampu melihat peluang potensi sumber daya kearifan lokal yang ada, yaitu budaya sastra lisan bonet yang “diolah” sebagai media penyampaian pesan-pesan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
MEMBALUT PESAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN
MELALUI PANTUN
Demas Tafuli menghentak-hentakkan kakinya kebawah mengikuti irama pantun yang dilagukan. Suara giring (gelang berlonceng yang terbuat dari kuningan) dari pergelangan kakinya bergerincing seirama dengan bait-bait pantun yang dilantukan, “PHBS lo lais Palo Let, Pa Lole Neum Hai To Ok Oke, Na Fena Kit Het Moin Alekot, Moin Ta Na Leok, Pahe Nao Mat.”
Syair pantun dalam Bahasa Timor Amanatun itu dialunkan oleh, Demas bersama dengan Yoseph Mafeo, Agustinus Asbanu, Sulce Benu, Veronika Tafuli dan 20 orang kawan-kawannya sambil menari dalam bentuk lingkaran. Syair tersebut memiliki makna ajakan kepada masyarakat untuk membudayakan hidup bersih dan sehat karena dengan perilaku hidup bersih dan sehat dapat mengatasi gizi buruk, kemiskinan, dan mengurangi angka kematian ibu dan bayi.
Demas, murid kelas IV, Sekolah Dasar Negeri Bimate, Desa Snok, Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur itu sedang memimpin kawan-kawannya berbalas berpantun dengan cara bersenandung mengikuti ritme irama dan pola gerakan tertentu. Masyarakat Timor menyebutnya sebagai Bonet, sebuah seni tradisional yang walaupun populer ditingkat masyarakat, kini mulai jarang dipentaskan dihadapan umum.
Demas dan kawan-kawannya dari SD Negeri Bimate merupakan salah satu dari 20 Sekolah Dasar yang diundang untuk mengikuti kompetisi Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media seni tradisional Bonet, yang dilaksanakan oleh POKJA AMPL Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada tanggal 18 dan 19 Mei 2009 di Lapangan Puspemnas, Kota Soe. Cornelis Metta, selaku Ketua Panitia Pelaksana menambahkan bahwa kompetisi ini bertujuan untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat utamanya anak-anak agar dapat memperbaiki pola perilakunya menjadi lebih bersih dan sehat. “Bonet dipilih sebagai media untuk menyampaikan pesan PHBS karena selain menggunakan bahasa loka, seni tradisi ini sangat populer di masyarakat Kabupaten TTS,” terang Cornelis yang juga merupakan Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan Kabupaten TTS.
Bonet merupakan seni berbalas pantun, yang biasa terdapat di belahan tengah Pulau Timor, salah satu pulau utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Seni tradisional yang umurnya ratusan tahun ini banyak ditemui pada sub-kultur Timor seperti Amanatun, Amanuban dan Mollo yang mendiami wilayah yang terbentang luas dari daerah Mollo di ujung barat hingga Boking diwilayah timur. Mengingat wilayah Kabupaten TTS yang luas dan jumlah sekolah dasar yang begitu banyak, maka panitia penyelenggara membatasi jumlah peserta ini hanya 20 Sekolah Dasar saja. “Selain karena keterbatasan biaya, kami ingin membina rasa kebersamaan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi dan proyek dalam jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang beroperasi di Kabupaten TTS,” lanjut Cornelis bersemangat.
Kegiatan yang rencananya akan dilakukan secara rutin tiap tahun ini, dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (POKJA AMPL) Kabupaten TTS dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten TTS. Salah satu hal yang patut dibanggakan dari kegiatan ini adalah dukungan jejaring AMPL yang beroperasi di Kabupaten TTS. Jejaring AMPL itu antara lain adalah GTZ-ProAir, UNICEF, ACF, Plan International, CARE International, Church World Service (CWS), dan PAMSIMAS. Setiap anggota jejaring pendukung kegiatan festival PHBS ini berbagi tugas dengan memberikan dukungan teknis dan fasilitas pada sekolah-sekolah yang berada dilokasi dampingan. GTZ-ProAir misalnya, memfasiltasi SDN Kolon dan SDG Pili yang berada diwilayah Desa sasaran ProAir di Kabupaten TTS. Begitu juga dengan PLAN International yang memberikan dukungan pada 4 Sekolah Dasar, yaitu, SDN Oekiu, SDI Siso, SDG Kokoi, dan SDI Nenonaheun. Sedangkan ACF dan PAMSIMAS masing masing mendukung dua sekolah, berturut-turut yaitu; SDI Boking, SDN Bimate, SDG ofu, dan SDI Oeupun. Adapun SDI Klofo, SDI Oehala, dan SDG Biloto berada dalam wilayah pendampingan CWS. Sementara itu CARE memberikan dukungan pada SDG Kolbano dan sisanya difasilitasi oleh UNICEF, antara lain, Fatukoto, SDN Oeusapi, SDI Oenali, SDI Kobelete, SDN Kesetnana dan SDI Sekip.
Berdasarkan pemantauan Timatius Benu, salah seorang juri kompetisi ini, isi pantun yang dibawakan oleh setiap sekolah cukup menarik dan unik. SDI Boking misalnya, lirik pantun mereka menekankan penggunaan jamban keluarga, “Kalu Teka Na Men, Tama Neuwa Kakus, Kakus So Ma Obe Kakus So Tao Oe.” Syair pantun tersebut memiliki makna, “Kalau ingin Buang Hajat Besar, Masuklah kedalam Jamban, Jamban harus ditutup, Jamban harus tersedia air,” jelas Timatius yang juga bekerja dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten TTS ini. Tema kompetisi Bonet kali ini sangat jelas, yaitu tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Namun penekanan syair Bonet dari setiap sekolah berbeda-beda. Ada yang menekankan syair pantun pada penggunaan jamban yang sehat, ada pula yang menyarankan untuk selalu mencuci tangan pakai sabun. Seperti Bonet dari SDN Fatukoto yang menghimbau masyarakat untuk terbiasa mencuci tangan dengan sabun. “Secara umum, semua tampilan bonet dari berbagai peserta sangat menarik, baik dari makna syairnya, cara pelantunannya dan gerak tariannya,” Timatius menambahkan.
Setelah melalui perundingan dewan juri yang cukup alot, maka SDI Boking terpilih sebagai juara pertama kompetisi Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media seni tradisional Bonet ini. Menurut dewan juri yang terdiri dari unsur Dinas Kesehatan, unsur Dinas Pariwisata dan pemilik sanggar atau praktisi budaya, SDI Boking memiliki angka diatas rata-rata untuk semua kriteria penilaian yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara. Pemenang kedua hingga ketiga kompetisi ini adalah SDG Ofu dan SDI Kobelete. Sedangkan pemenang harapan satu hingga tiga berturut turut adalah SDI Oehala, SDN Bimate dan SDI Klofo.
Lagi-lagi sebuah film tentang perburuan teroris dirilis oleh Hollywood. Judulnya, “Body of Lies,” yang dibintangi oleh aktor kawakan peraih oskar sekelas Leonardo DiCaprio dan Russel Crowe. Film yang mengambil setting timur tengah, seperti Irak dan Jordania ini hampir sama dengan film-film bergenre perburuan teroris terdahulunya, seperti “The Kingdom” atau “vantage point”. Capek deehh!
Ketika menyaksikan film ini, saya jadi teringat dengan pernyataan Michel Foucault bahwa tidak ada satu wacanapun yang netral dari keinginan untuk mempengaruhi. Begitu pula dengan wacana dalam film Body of Lies ini, yang semakin ditegaskan melalui karakter Roger Ferris – seorang koboi CIA yang ditempatkan di wilayah Timur Tengah – yang dimainkan dengan manis oleh DiCaprio. Wacana ideologis yang netral dan coba dibangun oleh Ridley Scot sang sutradara adalah bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan. Hal ini terungkap melalui pernyataan Ferris, “There’s no place in Koran for murder of innocent people and suicide, you know that.“
Tapi apakah film ini bebas dari pertarungan ideologis antar barat dan Islam? Apakah Scot berhasil bersikap adil terhadap Islam seperti yang ia pernah lakukan pada film, Kingdom of Heaven? Tentunya penafsiran film ini harus dikembalikan pada para penontonnya.
Namun, saya mengapresiasi satu hal penting. Scot tidak tergelincir dalam romantisme sempit ala Hollywood, dengan menjaga Aisha, gadis yang disukai Ferris untuk tetap “tak tersentuh”
Lomba Media Promosi PHBS di Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende
Rangkaian tulisan dan gambar dengan warna-warna terang yang kontras terlihat dengan jelas dari atas perahu motor yang melaju dipelipir pantai Pulau Ende. Tulisan dan gambar itu ditoreh diatas dinding batu yang diplester halus dan diberikan warna warna bernuansa eye catching, sehingga menggoda setiap orang untuk melihat dan membacanya. “Ari Kae Mae Tai Re Mau Aurat Kita Ata Tei Miu Iwa Mea?” Salah satu tulisan dipantai Dusun Paribajo, Desa Redodori itu artinya, ”Saudara-saudari, jangan buang tinja di pantai, aurat kita dilihat orang. Tidak Malukah, anda?”
Sementara itu di Dusun Tanjung, Desa Rendoraterua terdapat pesan yang mengutip Al Quran atau hadist Nabi. Misalnya, hadis yang menyatakan bahwa, ”kebersihan itu adalah sebagian dari iman.” Pesan tambahan pada tugu pengumuman itu adalah, ”Jagalah Kebersihan Lingkungan Dengan Tidak Membuang Hajat dan Sampah Di Sepanjang Pantai.”
“Luar biasa!” Ya, ’luar biasa’ adalah kata yang tepat untuk menggambarkan upaya masyarakat 7 desa di Pulau untuk merubah perilakunya. Masyarakat di Desa Aejeti, Rorurangga, Puutara, Padarape, Rendoraterua, Ndoriwoi, dan Redodori di Kecamatan Pulau Ende kini selangkah lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang bulan Februari hingga Maret 2009, masyarakat di 7 Desa di Pulau Ende ini menyelenggarakan perlombaan Media Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). ”Media Promosi PHBS dipilih karena dianggap bisa menjadikan alat untuk menyampaikan pesan-pesan yang menggugah masyarakat untuk peduli dan mau merubah perilakunya,” demikian disampaikan oleh Petrus H. Djata, penanggung jawab operasional kegiatan Dinas Kesehatan untuk program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan kerjasama Pemerintah Kabupaten Ende dengan UNICEF.
Menurut Piet, panggilan akrab Petrus H. Djata, isi pesan dan tulisan digali dari permasalahan kesehatan lingkungan yang ada disetiap dusunnya. Sehingga isi dan tulisan promosi PHBS disetiap dusun berbeda dengan dusun lainnya. ”Isi pesan dalam Media Promosi PHBS pada dusun yang masyarakatnya masih banyak melakukan praktik buang air besar sembarangan, pasti berbeda dengan dusun yang masyarakatnya sudah banyak memiliki dan menggunakan jamban,” terang Piet dengan bersemangat. Pria yang biasa dipanggil dengan sebagai, Pua Haji Djata oleh masyarakat Pulau Ende ini berupaya agar Pulau Ende bisa menjadi Serambi Mekah di Indonesia setelah Aceh. Disebut sebagai Serambi Mekah, bukan hanya karena 100% masyarakat Pulau Ende adalah pemeluk agama Islam, namun juga karena lingkungannya yang bersih dan sehat.
”Kegiatan lomba media PHBS ini merupakan rangkaian dari berbagai-kegiatan lain yang khusus ditujukan untuk merubah perilaku masyarakat di Pulau Ende agar bisa mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat yang lebih baik,” demikian disampaikan Dahlan, Camat Pulau Ende dengan antusias. Dahlan kemudian menceritakan beberapa kegiatan lain yang sudah dilakukan, antara lain pelatihan promosi PHBS pada tokoh agama, mubaligh dan ustad, penyusunan peraturan desa mengenai air minum dan penyehatan lingkungan, hingga arisan jamban. ”Kegiatan perlombaan media ini, semakin meyakinkan kami masayrakat Pulau Ende untuk terus dan semakin meningkatkan pola hidup bersih dan sehat serta menjaga pelestarian dan sanitasi lingkungan di wilayah kecamatan ini,” tambahnya.
Ayub, salah seorang dari 4 fasilitator pemberdayaan masyarakat di Pulau Ende menjelaskan bahwa perlombaan promosi melalui media dilaksanakan dengan metode partisipatif. Masyarakat pada satu dusun, diajak duduk bersama untuk mengidentifikasikan persoalan berkaitan kesehatan lingkungan yang dialaminya. “Masyarakat terlibat aktif mulai dari perencanaan, pembangunan media promosi hingga pengawasan paska pembangunan,” terang Ayub. Pengawasan dimaksudkan untuk melihat seberapa efektif media PHBS tersebut mempersuasi masyarakat untuk berubah dan menjadi lebih baik.
Berdasarkan penilaian Tim Juri Lomba Media Promosi PHBS ini, dari 19 dusun yang tersebar di 7 Desa wilayah Kecamatan Pulau Ende, yang mengikuti perlombaan, semua media promosinya dibuat dengan cukup menarik. “Ada larangan Buang Air Besar sembarangan yang menggunakan bahasa setempat disertai gambar, ada yang menggunakan bahasa arab, juga larangan dimaksud dikaitkan dengan pesan-pesan Al-Quran,” ungkap Piet, yang juga anggota tim juri ini. Dia menambahkan bahwa, “media-media ini dibangun diberbagai lokasi. Ada yang dipinggir pantai, ada yang dipintu masuk dusun dan ada juga ditengah kampung.”
Hasil penilaian juri lomba media PHBS menyatakan bahwa Juara pertama diraih oleh Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga. Sementara juara kedua adalah Dusun Tanjung, Desa Rendoraterua dan juara ketiga Dusun Paribajo, Desa Redodori.
Mama Tamar, begitu ia biasa dipanggil, tertawa bahagia. Raut kebahagiaan yang tiada tara jelas terlihat diwajahnya. Tidak heran jika Mama Tamar bahagia pada hari itu, karena kini ia tidak harus berjalan kaki lagi untuk mengambil air dari sumur terdekat yang jaraknya 1 kilometer dari rumah tempat ia tinggal. Sebuah kran air yang tersembung dengan jaringan perpipaan terdapat tepat disisi rumahnya yang sederhana. Kran berukuran ½ inchi itu dilengkapi meteran pengukur debit air sehingga mudah dalam mengkontrol pemakaian air. Mama Tamar adalah satu dari 212 rumah di Desa Mawar, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor yang mendapatkan sarana air sistem perpipaan dengan sambungan rumah. Ya! Di Desa ini, mungkin adalah desa pertama dan satu-satunya di kabupaten Alor yang memiliki sarana air dengan sambungan rumah seperti layaknya rumah-rumah didaerah kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Medan.
Desa Mawar merupakan salah satu dari 5 desa di Kabupaten Alor yang mendapatkan bantuan dari UNICEF berupa pembangunan sarana air bersih dengan sistem perpipaan gravitasi yang sumber airnya diperoleh dari mata air. Pembangunan itu dimulai pada Bulan Agustus Tahun 2008 yang lalu dan baru selesai pada Bulan Maret Tahun 2009 ini. Selama 7 bulan masyarakat di Desa Mawar bergotong royong membangun sarana air yang telah menghabiskan biaya sekitar 1 milyar rupiah. Sebagian besar biaya digunakan untuk membeli pipa besi yang didatangkan khusus dari Jakarta. Sebuah bak reservoir dengan ukuran 50 meter kubik berdiri tegak diatas bukit Dusun Tuntuli pada ketinggian sekitar 150 meter diatas permukaan laut. Jaringan pipa jenis galvanis ditanam atau ditutupi bebatuan dengan rapih dan teratur. Tidak terlihat sedikitpun kebocoran pada jaringan perpipaan ini, padahal yang membangun adalah masyarakat sendiri. Bukan kontraktor yang berpengalaman dan profesional dibidangnya.
Menyaksikan sendiri hasil kerja keras yang penuh dengan ketekunan, komitmen dan partisipasi masyarakat yang luar biasa ini sudah selayaknyalah kita memberikan apresiasi kepada masyarakat Desa Mawar. Jika dinominalkan, kontribusi masyarakat Desa Mawar yang mengerahkan tenaga kerja tanpa dibayar, mengumpulkan material lokal seperti pasir, kerikil dan batu secara swadaya, nilai keseluruhannya bisa mencapai 100 juta rupiah. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa salah satu faktor utama keberhasilan dan keberlanjutan sarana air minum yang dibangun adalah partisipasi aktif masyarakat.
Peran Kepala Desa
Salah satu catatan penting yang patut untuk dijadikan lessons learnt (pembelajaran) dari keberhasilan masyarakat Desa Mawar adalah peran Kepala Desa Yusak Oling. Kepala Desa bukan saja berperan sebagai motor pembangunan, tetapi juga adalah motivator dan yang terpenting bersedia turun langsung ikut terlibat dalam pembangunan. Melihat keterlibatan penuh Kepala Desanya membuat masyarakat Desa Mawar tergugah dan bangkit bergotong royong.
“Keberhasilan ini bukannya tanpa caci maki,” begitu Yusak bercerita tentang dinamika masyarakat yang dipimpinnya. Yusak menjelaskan bahwa sebenarnya tidak semua masyarakat bersedia untuk terlibat penuh. Ada beberapa orang yang apatis dan menganggap bahwa pembangunan jaringan perpipaan kali ini akan sama dengan yang terdahulu. Di Desa Mawar, memang pernah mendapatkan dua kali program pembangunan sarana air dengan sistem perpipaan. Keduanya tidak berlangsung lama karena setelah 6 bulan berfungsi terjadi banyak permasalahan. “Namun saya pantang menyerah!” Yusah menegaskan. Ia percaya bahwa pembangunan kali ini akan berhasil. Karena selain perhitungan teknis dilakukan secara cermat dan semua rumah mendapatkan sambungan kran, yang tentunya akan menghilangkan rasa ketidakadilan.
Belajar Dari Pengalaman Selain keterlibatan kepala desa yang menjadi motor keberhasilan pembangunan, ada pendekatan lain yang diharapkan dapat menjadi jawaban atas “ketidakberhasilan” banyak sistem perpipaan. Asumsi dasar yang digunakan adalah kebanyakan (bahkan hampir semua) sarana perpipaan perdesaan di Provinsi NTT menggunakan sistem kran umum. Hal inilah yang kemudian menimbulkan rasa ketidakadilan ditingkat masyarakat. Dengan kran umum, penggunaan air menjadi tidak dapat dikontrol dan dihitung secara tepat. Keluarga yang menggunakan air dengan banyak dan yang sedikit, membayar jumlah iuran yang sama. Begitu juga ada keluarga yang relatif jauh dari kran umum, membayar jumlah iuran yang sama dengan keluarga yang berada dekat dengan kran umum. Hal inilah yang kemudian menjadikan sistem kran umum menjadi tidak efektif, karena tidak adanya rasa tanggung jawab. Pendekatan baru yang diujicoba di Desa Mawar ini diharapkan dapat menjawab persoalan itu