Berbagi Pengalaman Pengelolaan Sarana Air Minum Perpipaan di Desa Inaoe, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT
Imanuel Jeshua mengangkat tinggi tinggi selembar kertas berwarna biru. “Lihat, ini Kartu Pemakai Air saya,” ujarnya bersemangat. Kartu Pemakai Air yang dimaksudkannya itu, tidak lain adalah sebuah lembar pencatatan penggunaan air mirip kartu berlangganan milik Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM yang biasanya terdapat di kota-kota besar. Tapi tunggu dulu, Imanuel tidak tinggal di kota besar, bahkan dia tinggal jauh dari Kota Ba’a, Ibukota kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Imanuel tepatnya tinggal di Desa Inaoe, Kecamatan Rote Selatan, di kabupaten paling ujung selatan Republik Indonesia ini.
Imanuel Jeshua merupakan salah satu dari sekitar 600 warga Desa Inaoe yang menikmati air minum dengan sambungan rumah yang disalurkan melalui jaringan perpipaan. Sambungan langsung ditiap rumah yang dilengkapi meteran air ini tentunya sebuah kemewahan tersendiri, karena hanya Desa Inaoe saja dari seluruh desa di Kabupaten Rote Ndao yang dapat menikmatinya. Sarana yang pembiayaannya didukung oleh UNICEF ini dibangun sejak tahun 2008 melalui pendekatan partisipatif. Setelah melalui proses pembangunan selama 1,5 tahun, akhirnya sarana dengan panjang jaringan nyaris 7 kilometer ini dapat diresmikan oleh Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning MM pada Bulan Juni 2010 lalu. Hingga saat ini sarana yang didesain untuk menjangkau pelayanan kepada tidak kurang dari 100rumah tangga tersebut masih berfungsi secara baik. Salah satu bukti berfungsinya sarana adalah kartu pemakai air yang diperlihatkan Imanuel tadi. “Setiap bulannya kami membayar kepada Badan Pengelola Sarana sesuai dengan volume penggunaan air,” jelas Imanuel. Ia pun tidak terlihat keberatan dengan beban iuran yang sebesar Rp. 2.000,- per kubik. Lebih lanjut Imanuel mengatakan bahwa keluarganya rata-rata memakai 5 kubik air setiap bulan, sehingga hanya Rp. 10.000,- saja yang harus dibayar kepada Badan Pengelola Sarana. Nilai itu tentunya tidak seberapa dibandingkan kenikmatan yang dirasakan oleh Imanuel dan masyarakat di Desa Inaoe lainnya. Kelompok masyarakat yang paling menikmati sarana ini adalah anak dan perempuan, seperti yang diungkap oleh Welmince Kade dalam logat lokal yang khas, “beta son pernah pi pikul air lai.” Benar! Welmince beserta dua orang anaknya kini tidak perlu lagi repot-repot mengambil dan memikul air dari mata air yang berjarak 2 kilometer dari tempat tinggalnya. Karena itulah, Welmince tidak ragu-ragu membayar iuran tepat pada waktunya kepada Badan Pengelola Sarana Air Bersih Desa Inaoe.
“Kami bersyukur masyarakat bersedia membayar iuran pemakaian air secara rutin,” tutur Nelci Malelak salah seorang anggota badan Pengelola Sarana Air Bersih Desa Inaoe dengan nada suka cita. Ia menambahkan bahwa awalnya masyarakat tidak terbiasa dan selalu berkelit jika harus membayar iuran. Namun kini, setelah 7 bulan berfungsi, masyarakat sudah mulai sadar dan merasakan manfaatnya sehingga tertib membayar iuran pemakaian air kepada Badan Pengelola. Hal ini tidak terlepas dari kepedulian dan komitmen Nelci selaku anggota Badan Pengelola Air yang didukung oleh 5 anggota badan pengelola lainnya. “Sejak awal kami berkomitmen memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat,” terang Nelci. Maka secara rutin, Nelci bersama anggotanya membersihkan mata air, reservoir hingga memperbaiki kebocoran yang ada. Setiap keluhan masyarakat juga selalu ditindaklanjuti dengan cepat. “Ternyata pelayanan yang baik dan lancar, membuat masyarakat segan dan tertib membayar iuran,” kata Nelci.
From the most remote isolated villages to the gorgeous one,
From the warm friendly villages to the challenging one
Tepat pada tanggal 20 Bulan November Tahun 2010, genap sudah 4 tahun saya bekerja di Provinsi Nusa Tenggara Timur tercinta ini. Tidak terasa selama 4 tahun itu, sudah banyak cerita, kenangan, suka, duka maupun luka yang terjadi untuk kemudian lekat dalam benak. Menuliskan kembali cerita-cerita tersebut sangatlah menyenangkan. Selain untuk senam otak kanan agar tidak berkarat, cerita ringan itu tentunya oleh-oleh yang berharga bagi kehidupan di masa depan.
Satu keinginan yang baru hari ini dapat terlaksana adalah mengkoleksi cerita tentang desa-desa favorit yang sempat saya kunjungi. Ya, favorit karena tentunya desa-desa itu sangat permai dan masyarakatnya yang ramah. Dari total 88 desa dampingan di 7 kabupaten, sekitar 40-an desa yang sempat saya kunjungi. Sebagian besar diantaranya, hanya satu dua kali saja kaki ini menapaki tanah di desa-desa itu. Namun ada beberapa lokasi yang selalu saya datangi berulang-ulang. Lalu desa-desa mana saja yang menjadi favorit itu? Berikut ini adalah selayang pandang beberapa desa terfavorit yang sering saya kunjungi yang ditulis dalam beberapa bagian terpisah.
Desa Mawar Kabupaten Alor
Bukan saja desa-desa di pelosok Kabupaten Alor yang asik untuk disambangi. Mengunjungi kabupaten Alor-pun sudah merupakan keasyikan tersendiri. Berkunjung ke Alor selalu saja menjadikan saya bersemangat dan siaga dalam posisi berpetualang. Bagaimana tidak, kabupaten ini dapat dikatakan dalam kategori “remote area” atau terpencil karena terletak diujung paling timur Provinsi NTT yang berbatasan langsung dengan laut Timor Leste. Infrastruktur jalan masih sangat minim, ditambah kondisi kabupaten ini yang berpulau pulau.
Desa Fatukoto Kabupaten Timor Tengah Selatan
Hingga saat ini, saya belum pernah menurunkan satupun tulisan tentang Desa Fatukoto yang berada di dataran tinggi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini. Desa Fatukoto sungguh indah dan eksotis tiada tara, selain berada ditempat yang sangat strategis, hawa pegunungan membuat desa ini selalu sejuk bahkan pada siang hari bolong. Jika berkendaraan dari sisi “atas” desa, maka kita akan menembus hutan cemara yang rindang dan selalu basah oleh embun, melalui jalan berkelok naik dan turun yang terkadang muncul kabut yang membalut kendaraan. Pada 2 kilometer akhir, sebelum mencapai pusat desa jalan menjadi tak beraspal seperti jalur off road lintas alam yang memacu adrenalin.
Satu hal yang mungkin membuat kita terpana adalah jalan desa “off road” itu yang ternyata dialasi pecahan batu gamping yang menyerupai marmer. Bebatuan di Desa Fatukoto ini memang dikenal mengandung unsur mineral tertentu yang mengarah pada jenis bebatuan metamorf. Terbukti di salah satu sudut Desa Fatukoto terdapat bukit marmer. Bahkan pernah ada investor yang masuk dan mulai menambang batu marmer di desa itu beberapa tahun yang lalu. Namun karena tekanan sosial dari masyarakat Desa Fatukoto yang cukup tinggi, akhirnya penambangan dihentikan.
Desa Fatukoto berada di Kecamatan Mollo Utara, atau sekitar 1 jam berkendaraan ke arah utara dari Kota Soe, Ibukota Kabupaten TTS. Sejak keluar dari Kota Soe, jalan aspal menuju Fatukoto tidaklah terlalu besar bahkan sebagian besar rusak berlubang. Disepanjang jalan, banyak terdapat pepohonan jeruk yang dimiliki oleh masyarakat. Kecamatan Mollo Utara ini memang terkenal sebagai salah satu penghasil jeruk Soe yang terkenal manis itu. Sayangnya, kebanyakan pohon jeruk telah di “jual” buahnya sebelum dipanen. Sistem ini di jawa dikenal dengan nama ijon.
Desa Fatukoto dapat dijangkau melalui dua arah. Yaitu dari “atas” atau “bawah”. Sekitar 3 kilometer kearah utara selepas Kapan, Ibukota Kecamatan Mollo Utara terdapat percabangan jalan. Apabila mengambil jalan “atas” maka kita melewati hutan cemara tadi. Jalan “bawah” sebenarnya lebih cepat, namun ada beberapa bagian jalan tersebut yang longsor dan berbahaya dilalui pada musim hujan.
Untuk kedua kalinya, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) melaksanakan Lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media tradisional bonet. Kegiatan kali ini dilaksanakan di pusatkan di Desa Boking, Ibukota Kecamatan Boking pada tanggal 15 hingga 17 September 2010 yang lalu. Boking dipilih sebagai lokasi lomba karena pada kompetisi serupa di tahun 2009, SD Inpres Boking terpilih sebagai juara pertama, sehingga Bupati TTS, Paul Victor Mella ketika itu menyatakan bahwa lomba PHBS melalui Bonet tahun 2010 harus dilaksanakan di Kecamatan Boking
Pelaksanaan lomba ditahun 2010 sangat berbeda, misalnya dari jumlah peserta lomba jauh lebih banyak. Kalau ditahun 2009 peserta lomba hanya 20 Sekolah Dasar dan melibatkan 400 murid, lomba di Boking ini melibatkan 31 Sekolah Dasar dari 31 Kecamatan di Kabupaten TTS. Satu kecamatan yang tidak mengirim wakilnya dalam perlombaan adalah Kecamatan Tobu. Jumlah murid yang terlibat tidak kurang dari 900 orang anak. Mereka datang dengan ditemani orang tua, kepala sekolah, dan guru. Lebih dari 1000 orang tumpah ruah di Desa Boking menyaksikan lomba ini.
Lomba dimulai pada tanggal 15 September 2010 setelah dibuka secara resmi oleh pejabat pemerintah. Setiap sekolah diberikan kesempatan untuk pentas sebanyak satu kali dengan durasi waktu 10 hingga 20 menit. Dewan Juri terdiri dari 5 orang yang mewakili sub suku Dawan, yaitu Amanuban, Amanatun dan Mollo. Dewan Juri memberikan nilai berdasarkan kriteria yang meliputi 4 unsur, yaitu unsur wiraga, wirupa, wirasa, dan blocking. Unsur wiraga adalah penilaian kekompakan gerakan dengan lagu serta syair. Unsur wirupa merupakan penilaian tata rias, tata busana dan warna busana. Sedangkan unsur wirasa menilai ritme, tempo, jatuhnya ketepatan perpindahan gerak. Sedangkan unsur terakhir yaitu bloking atau penguasaan pangung oleh peserta.
Dalam kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten TTS mengalokasikan dana yang cukup besar. “Ini merupakan komitmen kami, Pemerintah Kabupaten TTS untuk mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat melalui media seni tradisi lokal,” demikian ungkap Cornellis Metta, Ketua Panitia lomba ini. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa meskipun dukungan dari organisasi non pemerintah, seperti UNICEF dan PLAN International tetap ada, namun porsi terbesar pendanaan kegiatan ini berasal dari APBD.
Setelah seluruh peserta dari 31 Sekolah Dasar berlaga dipanggung, Dewan Juri akhirnya memutuskan juara pertama lomba ini adalah SD Negeri Usapi dari Kecamatan Polen. Sedangkan SD Yaswari Kuanoe dari Kecamatan Kokbaun menempati posisi kedua diikuti oleh SD Inpres Nifubia mewakili Kecamatan Kolbano ditempat ketiga. Salah seorang juri menyatakan bahwa lomba kali ini jauh lebih bermutu jika dibanding tahun sebelumnya. Misalnya dari sisi kualitas syair pantun bonet yang saat ini lebih banyak menyampaikan PHBS seperti, cuci tangan pakai sabun dan penggunaan jamban pada saat buang air besar. Melihat antusiasme peserta di Boking, bisa dipastikan perlombaan serupa di tahun 2011 akan lebih meriah.
Tips sukses Pemerintah Kabupaten Alor dalam memfasilitasi program pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan berbasis Masyarakat di Desa Maritain, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur
“Kami mampu meneruskan pembangunan sarana air minum sistem perpipaan ini!” Begitu pernyataan Kepala Desa Maritain, Yonas Banik kepada saya pada suatu hari di tahun 2009. Pada saat itu pembangunan sarana air minum di Maritaing, desa paling ujung timur Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Timor Leste ini terhambat karena rendahnya partisipasi masyarakat. Yonas sebagai Kepala Desa Maritaing harus dipanggil ke Kalabahi untuk menyatakan komitmen dan kesanggupannya dihadapan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (POKJA AMPL) Kabupaten Alor dalam hal memastikan partisipasi masyarakat untuk menyelesaikan pembangunan sarana air minum dengan system perpipaan yang didukung oleh UNICEF ini.
Satu hari sebelumnya, saya beserta Tim POKJA AMPL Kabupaten Alor berkesempatan mengunjungi ke Desa Maritaing dan mendapatkan pembangunan yang terhenti dan ditelantarkan begitu saja. Bahkan saya hampir saja menabrak dinding reservoir yang tertutup rimbunan tumbuhan, ketika berjalan kaki mendaki bukit. Reservoir ketika itu tampak lebih cocok disebut sebagai bunker peninggalan jaman jepang. Saya juga menemukan retakan dan patahan yang cukup parah pada Bak Reservoir yang membuat saya mengelus dada dan prihatin. Belum lagi saya menemukan ratusan batang pipa yang berserakan tak terurus ditepian jalan dan gang-gang desa. Terus terang kenyataan pada saat itu sangat menyedihkan karena selain pembangunan di Maritaing terhenti selama beberapa bulan, tidak ada satupun tanda-tanda masyarakat akan kembali bekerja melanjutkan pembangunan.
Pesta Rakyat di Maritaing Namun itu adalah cerita lama, yang telah berlalu. Kini, satu tahun setelah kunjungan terakhir saya di Desa Maritaing, akhirnya saya dapat bernafas lega. Belum lama ini, pada Hari Selasa tanggal 22 Juni 2010, Bupati Kabupaten Alor, Drs. Simeon Th. Pally menyempatkan diri meresmikan selesainya pembangunan sarana air minum system perpipaan di Desa Maritaing ini dan juga sekaligus mendeklarasikan Desa Maritaing sebagai desa yang telah bebas dari perilaku Buang Air Besar Sembarang. “Segala sesuatu indah pada waktunya,” begitu cuplikan sambutan Pally dihadapan masyarakat Maritaing. Dalam peresmian itu, selain para muspida Kabupaten Alor, juga dihadiri oleh para pejabat pemerintah pusat, provinsi dan perwakilan UNICEF. Pejabat pemerintah yang hadir diantaranya adalah Budi Hidayat Direktur Permukiman Bappenas, Zainal Nampira Kasubdit penyehatan air Kementerian Kesehatan, dan Indar Parawangsa mewakili Departemen Dalam Negeri. Sementara yang mewakili provinsi adalah Ramsis Y Tela Kepala Subbid Tata ruang Bappeda Provinsi, Gabriel Bunga staff Dinas Kesehatan dan Thomas mewakili Dinas Pekerjaan Umum Provinsi. Pihak UNICEF diwakili oleh Francois Brikke sebagai Chief of WASH Section UNICEF Indonesia dan Gregorius Fernandez UNICEF Chief of Field Office Kupang.
“Saat ini terdapat 233 sambungan rumah yang dapat dinikmati oleh Masyarakat Desa Maritaing,” Pally melanjutkan dalam sambutannya. Hal ini merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air minum dan kesehatan lingkungan yang layak bagi masyarakat. “Pemenuhan kebutuhan ini merupakan hak dasar masyarakat yang wajib dipenuhi pemerintah,” tegas Pally.
Tidak terbendung guratan kebahagiaan masyarakat Desa Maritaing, ketika Bupati Alor memutar kran air menandakan meluncurnya air kesetiap rumah secara resmi. “Hari ini sudah kami tunggu-tunggu setelah tiga tahun menanti,” demikian yang disampaikan oleh Erniwati Masae, seorang warga masyarakat Desa Maritaing yang saya temui bersama ibu-ibu PKK lainnya yang sedang sibuk di dapur umum belakang kantor desa pada saat peresmian. Ucapan Erniwati ini diamini oleh puluhan ibu-ibu PKK lainnya.
Dibalik hiruk pikuk pesta rakyat dalam peresmian itu, mungkin tidak banyak yang tahu betapa berlikunya jalan cerita pembangunan sarana air minum di Desa Maritaing ini. Benar! Berdasarkan pengalaman saya, pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat bukannya tanpa hambatan. Pembangunan sarana air minum system perpipaan di Desa Maritaing adalah contohnya.
Pembangunan berbasis pemberdayaan mengasumsikan banyak sisi positif. Beberapa manfaat program pemberdayaan antara lain adalah garansi keberlanjutan, rasa kepemilikan yang tinggi dan juga peningkatan kapasitas masyarakat itu sendiri. Tapi semudah itukah fakta dilapangan, semudahnya kita membalikkan tangan. Jawabannya tentu saja tidak! Diperlukan komitmen, rasa tanggung jawab dan kesabaran untuk mewujudkan keberhasilan di lokasi desa dampingan. Selain itu ada satu kalimat kunci yang harus kita pegang sebagai keyakinan bersama, yaitu asumsi bahwa masyarakat mampu melaksanakannya! Tanpa asumsi dasar ini, kita cenderung menyalahkan masyarakat apabila program pemberdayaan tidak berlangsung mulus.
Melki Beli, Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Alor dan juga salah satu anggota POKJA AMPL, menyampaikan satu tips sederhana kepada saya, “fasilitator pemberdayaan yang tepat, dapat diterima masyarakat dan netral merupakan kunci keberhasilan program berbasis masyarakat.” Lebih lanjut Melki menceritakan bagaimana upayanya menjawab tantangan yang tidak mudah dipecahkannya di Desa Maritaing ketika itu, terutama mengatasi rendahnya partisipasi masyarakat. “Beberapa kali fasilitator pemberdayaan telah kami ganti, namun tidak banyak perubahan berarti. Perubahan terjadi setelah Bapak Abdul Azis Lamadaung bertugas, ia berhasil memotivasi masyarakat sehingga masyarakat bersedia bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan yang tertunda,” ujar Melki.
Pendekatan mencari fasilitator pemberdayaan yang mumpuni terbukti berhasil, Azis yang mendampingi masyarakat Desa Maritaing sedikit demi sedikit meraih simpati dan kepercayaan masyarakat. “Saya berkeliling dan memotivasi masyarakat sambil berupaya mengenal lebih jauh tiap kepala keluarga. Kalau sudah mengenal dengan baik warga, maka rasa sungkan akan timbul apabila mereka tidak turun bekerja,” Azis membocorkan rahasia pendampingannya. Ia juga mengakui kalau kedekatannya dengan masyarakat, membuatnya diundang untuk makan dan bahkan menginap dirumah mereka. Hasilnya dalam waktu tidak kurang dari 4 bulan, sejak Azis diturunkan pertama kali ke Desa Maritaing, semua komponen pembangunan telah selesai 100%.
“Masih ada tips lain,” kata Melki menambahkan. Pendampingan yang intensif dari pemerintah disetiap level juga tidak kalah penting. “Tidak hanya tim kabupaten yang turun ke desa secara berkala, namun juga pendampingan dan dorongan pemerintah kecamatan hingga desa,” lanjut Melki menjelaskan dengan antusias.
Saya sepakat dengan pernyataan Bupati Alor, Drs. Simeon Th. Pally, “segala sesuatunya Indah pada waktunya.” Ucapan yang dikutip dari Alkitab itu benar-benar menyiratkan keindahan yang tercipta di Desa Maritaing setelah 2 tahun lamanya berjuang melalui kerja keras dan swadaya.
Tulisan ini sengaja dibuat ditengah hiruk pikuk Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan. Ketika sebagian besar masyarakat Indonesia dapat menikmati melalui layar televisi, saya terpaksa gigit jari karena siaran Piala Dunia tidak bisa ditonton oleh mereka yang menggunakan parabola. Dan sialnya, saya termasuk pengguna parabola itu. Hiksss…
Keajaiban teknologi menyadarkan saya untuk dapat menikmati Piala Dunia dengan cara yang unik. Meskipun tidak dapat menyaksikan langsung pertandingan Argentia melawan Jerman yang berlangsung malam ini (4 Juli 2010) misalnya, postingan di fesbuk cukup jelas menggambarkan jalannya pertandingan tersebut atau bahkan perang urat saraf para pendukung kedua kesebelasan jauh sebelum pertandingan dimulai. Sekedar contoh saja, dua orang kawan berteriak, “Germany, I love you!” dan “Go Germany!” sebagai ungkapan dukungan bagi tim kesayangannya sebelum turun main. Atau perhatikan postingan rekan kerja di Depdagri pendukung Argentina berikut ini,”Berbahagialah Jerman karena akan dipulangkan oleh tim sehebat Argentina!” Postingan itu tentunya memerahkan mata (bukan telinga) para pendukung Jerman. Perang komentar dan postingan menghangatkan dinding fesbuk dari semenjak beberapa jam sebelum pertandingan dimulai.
Lalu bagaimana dinamika dinding fesbuk saya selama pertandingan berlangsung? Berikut ini cuplikannya yang dicopy paste dari kawan semasa kuliah,
Made : “Jerman leading 1-0 menit ke 3!”
Catur : “2-0 untuk jerman, Yeess!”
Karena ketinggalan 2 gol, para fesbuker pendukung Argentina mulai terlihat frustasi, seperti yang diungkapkan seorang kawan pekerja kemanusiaan di Aceh dulu,
Grey : ” Huhuhuhu… Gak jadi bikin daster seragam argentina, nih keknya,”
Lalu, para pendukung yang frustasi itu ternyata mulai memaki-maki tim kesayangannya sendiri, lihat saja pernyataan kawan SMA ini,
Sugi : “Argentina main bola koyok krupuk upil. Pemain back kon mulih ngarit nang sawah ae,”
Sementara itu, terdapat pengagum sejati Argentina yang konsisten dan tetap mendukung tim kesayangannya sendiri, terbukti postingannya bernada sedikit rasial, “Ah orang Jerman gak di kampus, gak di tempat kerja, gak di lapangan bola sama nyebelinnya!”Hehehehehe…
Melihat kondisi yang tidak menguntungkan bagi Argentina, rame-rame dinding fesbuk dipenuhi lagu, “Don’t cry for me Argentina.”
Fenomena Piala Dunia dan Fesbuk mengingatkan saya akan salah satu teori posmodernisme yang diusung oleh Jean Baudrillard, yang dikenal dengan istilah hiperrealitas. Teknologi terbukti berhasil menyalurkan informasi yang tak jarang telah dibengkokkan. Bahkan pada medium jejaring sosial yang sangat demokratispun realitas dipotong menjadi kode-kode bahasa yang membawa pesan berlebihan dibandingkan dengan kenyataan itu sendiri.
Dalam kasus Piala Dunia dan Fesbuk ini, postingan pernyataan adalah sebuah cara mempermainkan realitas, sebuah citra yang dipelintir dan pantulan dari fakta yang telah kehilangan kebenarannya. So, selamat datang di Dunia Hiperreal, seperti ungkapan kawan aktifis kemanusiaan tadi, ketika pertandingan berakhir, “gara-gara Dunga dan Maradona mau ngganti goyang Samba dan Tango dengan dangdut koplo tanpa belajar ke arema… beginilah akibatnya…”